Blog EntryTASARO - Samita (Komentar #2)Aug 21, '06 10:32 AM
for everyone
Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit
Sumber Data :
>> http://nasanti.multiply.com/reviews



Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Tasaro

Cerita Silat?
Saya ga pernah tertarik baca cerita silat. Kesannya keras, kasar, dan kuno. Semua masalah diselesaikan dengan perang tanding. Tokoh-tokohnya cepat sekali marah dan meluapkan emosinya sesuka-sukanya. Ga ada manis-manis dan lembut-lembutnya deh…

Lalu kenapa saya baca Samita?
Alasannya:
1.) Di Samita tertulis historical fiction (berarti belajar sejarah tapi ga terasa berat dan betein. Minimal saya dapet sesuatu lah dari Samita).
2.) Tokoh yang diangkat Cheng Ho (saya pengen tau dong…)
3.) Penulisnya pernah dapet penghargaan Adikarya IKAPI, juara 1 lagi! (plus pernah juara 1 lomba novel FLP)
4.) Saya kenal sama penulisnya, satu kantor lagi! (hehehe…lengkap sudah. Tak ada lagi alasan bagi saya untuk ga baca Samita)
So, apa komentar saya setelah baca Samita.
Cantik, seru, dan unpredictable!
(Tuh, kan ga percaya. Begitu cepat hati saya berubah hanya gara-gara baca Samita).

Oke, seriusnya begini:
Secara keseluruhan Samita: cantik, seru, unpredictable.
Tapi masih ada beberapa adegan perang di Pelabuhan Simongan yang bagi saya cukup klise dan membosankan. Apalagi kejadiannya masih di bab-bab awal. Namun Tasaro berhasil mengganti kekecewaan itu dengan adanya misteri pencurian Kitab Kutub Beku. Ini membuat saya penasaran dan tidak ingin berhenti membaca sampai saya tahu siapa pencurinya. Secara emosional saya baru masuk dan menjadi bagian dari cerita saat Hui Sing perang tanding melawan Kolo Ireng cs. Saya tertarik membayangkan adegan dan gerakan Hui Sing yang lentur, cantik, dan tidak kasar tapi mematikan. Apalagi saat akhirnya dia kalah dan jatuh di jurang, Saya jatuh cinta dengan ketegaran Hui Sing.

Adegan perang tanding lain yang saya suka adalah saat Samita harus bertempur melawan Anindita. Bayangkan, dua wanita digdaya, punya kelembutan dan kehalusan, sama-sama masih muda dan pernah menjadi teman dekat, berperang untuk membuktikan dan mempertahankan kebenaran masing-masing. Kelembutan yang berpadu dengan keinginan untuk saling mengalahkan. Pertempuran hidup dan mati yang (harusnya) memukau dan mengesankan jika difilmkan.
Perkembangan berikutnya saya benar-benar menikmati perjalanan hidup dan emosi Hui Sing, juga Sad Respati. Namun sayang ya saya agak merasa ada missing link ketika tiba-tiba muncul tokoh Laksmi dan Kesawa. Proses persinggungan dan masuknya dua-tiga budaya yang berbeda (Jawa-Hindu, Gujarat-Islam, dan Tiong Hoa Islam) tidak diangkat oleh Tasaro. Padahal ini menarik sekali. Saya mendapatkan semuanya sudah terima jadi. Ga ada proses, ga ada tahapan-tahapan. Akhirnya kemunculan Laksmi dan Kesawa terasa dipaksaan demi islamisasinya Sad Respati.
Namun ada satu hal yang saya tangkap dalam Samita ini. Girl Power! Saya lebih banyak melihat karakter perempuan yang punya peran besar: Samita/ Hui Sing, Anindita, Ramya, Laksmi, Suciatma, Kusumawardhani (yang merelakan suaminya nikah lagi dengan Suciatma. Walau adegannya sedikit, tapi Tasaro menunjukkan bahwa karena ide Kusumawardhani lah, maka pemberontaan Blambangan bisa diredam). Masing-masing tokoh perempuan ini bukan perempuan sembarangan, mereka adalah perempuan-perempuan cerdas, digdaya, punya "kekuatan", tegar, dan berkarakter. Bahkan Anindita yang cantik, lemah-lembut dan seorang putri pun punya “kekuatan” dan daya pikir yang mampu memorakporandakan eksistensi suaminya.
Saya sempat kembali bosan saat mengikuti perjalanan Setan Kecapi Bisu. Ga menarik sama sekali. Klise. Adegan balas dendam yang biasa-biasa aja. (Itu Ramya kan ya?)
Juga saat mengikuti Respati di perguruan Kesawa, ga terlalu menarik bagi saya. Karena tidak sabar saya sempat membaca sekilas, ingin cepat-cepat tahu nasib Samita. Dan alangkah kecewanya saat saya mendapati kenyataan Samita married dengan Sad Respati. Saat itu juga saya langsung protes ke penulisnya, walau baca belum utuh.
Tapi kemudian saya mengulang lagi membaca dengan sabar satu-satu, adegan per adegan. Dan ketika sampai di ending, setelah selesai membaca, saya benar-benar merasa takjub dengan kemampuan Tasaro mengakhiri ceritanya. UNPREDICTABLE! Sungguh tidak saya duga sebelumnya, cerita itu tidak dibuat melankolis dengan ending yang memanjakan imajinasi pembaca, tapi sengaja dibuat menyentak dan mengejutkan di akhir. (saya jadi nunggu-nunggu Samita kedua, niy).
Namun pada penggarapan tokoh di akhir-akhir cerita sepertinya Tasaro sempat kedodoran dengan memasukkan beberapa adegan bercerita lucu pada Windriya. Bukankah Windriya lebih cakap berpuisi? Sementara yang terbiasa bercerita lucu adalah Laksmi? Selain itu ada beberapa plot yang terasa loncat-loncat di bab-bab akhir. Mungkin karena ingin segera menyelesaikan cerita, sehingga perpindahan adegan di bab-bab akhir tsb beberapa kali terasa sangat cepat.

Kemampuan Tasaro menuangkan adegan-adean silat dalam kalimat-kalimat yang hidup patut dibanggakan. Bukan hal yang mudah seorang penulis mendeskripsikan sebuah adegan perang tanding dengan gerakan-gerakan yang deskriptif dan detail. Tasaro mampu "show" dalam novel Samita, bukan sekedar "tell". inilah yang membuat Samita menjadi sebuah novel yang CANTIK.
Sementara konflik demi konflik yang dialami samita membuat cerita ini tetap menyimpan sesuatu untuk dituntaskan. Sebuah perjuangan yang membutuhkan ketegaran, kekuatan, kecerdasan, dan keyakinan. Tasaro membawa pembaca pada suspense yang terus memuncak, SERU.

Satu-satunya yang benar-benar mengganggu saya saat membaca Samita adalah munculnya suiiittt, wuuuuuzzzz, praaang... jedert..!! saat adegan perang tanding. Saya serasa baca komik, hehehe... Kan lebih asyik kalau dideskripsikan dalam kata-kata.
Usul: Di Samita II, Samita harus bisa menemukan jurus-juru baru yang makin digdaya tapi tidak cuma mengandalkan tenaga dalam, tapi juga kecerdasan otak, dan tetap mempertahankan kecantikan gerak perempuan (seperti jurus nuruty doty :-)). Saya berharap Samita tidak dikasih pegang keris (Angga Cuwiri). Kesannya jadi sangar dan tidak cantik lagi.
oke, gitu aja komentarku.


owleyelfiana wrote on Jun 22, '07
Satu-satunya yang benar-benar mengganggu saya saat membaca Samita adalah munculnya suiiittt, wuuuuuzzzz, praaang... jedert..!! saat adegan perang tanding. Saya serasa baca komik, hehehe... Kan lebih asyik kalau dideskripsikan dalam kata-kata.
kok mengganggu sih? bukannya asyik, imajinasinya ditantang abis...
btw, emang bakal ada samita II? beneran nih? asyik.....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.