Tasaro: Samita - Bintang Berpijar di Langit Majapahit
Sumber data :
>> http://yulian.firdaus.or.id
Tasaro adalah nama pena Taufik Saptoto Rohadi. Ia menulis cerita setebal hampir 500 halaman dalam setting jelang runtuhnya Mahapahit di bawah pimpinan Wikramawardhana. “Samita — Bintang Berpijar di Langit Majapahit” ia beri judul yang dirilis November tahun lalu oleh penerbit DAR! Mizan, Bandung. Buku ini menggabungkan sisi sejarah awal runtuhnya Majapahit, cerita silat seperti Kho Ping Hoo, deskripsi ajaran Islam yang dibawa Laksamana Cheng Ho serta cerita cinta melalui dialog dan pemikiran.
Membaca cerita Samita ini seperti langsung membuka halaman tengah karya Remy Sylado “Sam Po Kong”. Dimulakan dengan tibanya perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Simongan (Semarang) untuk mengobati saudaranya Wang Jing Hong yang terkena cacar air. Juen Sui, Sien Feng dan Hui Sing adalah murid-murid yang sudah dianggap anak oleh Cheng Ho. Armada Kekaisaran Ming dari Cina ini dipimpin Cheng Ho untuk mengadakan misi persahabatan ke seluruh negeri di wilayah Majapahit.
Berikutnya fokus cerita berada pada Hui Sing yang kelak menamakan diri Samita dan menetap sementara di Simongan setelah sebelumnya berkunjung ke pusat pemerintahan Majapahit di Mojokerto. Morat-maritnya pemerintahan Majapahit membuat Hui Sing bersahabat dengan anak Ki Legowo, Ramya, yang bertemu sejak berlabuh untuk mencari tempat penyembuhan Wang Jing Hong yang juga bertepatan dengan datangnya pasukan dari Blambangan yang dipimpin oleh Turonggo Petak yang hendak menumpas mereka yang dianggap lawan dalam melicinkan jalannya ke jabatan maha patih Majapahit, hingga akhirnya Ki Legowo terbunuh.
Armada meneruskan perjalanan ke Surabaya dan Mojokerto sekaligus untuk membicarakan terbunuhnya ratusan prajurit Cheng Ho di Simongan. Rombongan disambut langsung oleh Sad Respati, kepala Bhayangkari Majapahit. Hui Sing pun berkenalan dengan Anindita, yang kelak menjadi istrinya Sad Respati.
Selama di ibukota terjadi kegegeran pembunuhan seorang Rakyan Rangga yang akhir Sad Respati naik jabatan. Kejadian tersebut disaksikan langsung oleh Hui Sing yang sempat ikut mengejar pelakunya, hingga akhirnya Hui Sing memutuskan turun kembali ke tanah Jawa di Simongan, tidak ikut armada yang bergerak ke Palembang dan kembali ke Cina.
Berganti nama menjadi Samita, Ramya, Sad Respati dan Anindita menjadi tokoh inti perjalanan cerita berikutnya sebagai jawaban kenapa Hui Sing tinggal di Jawa, apa kisah Ramya berikutnya serta apa keterlibatan Sad Respati dan Anindita dalam konspirasi di dalam tubuh pemerintahan Majapahit.
Islam dan ajaran Hanacaraka menjadi fokus utama Tasaro dalam menggambarkan dua tokoh utama Samita dan Sad Respati, selain menggambarkan perkembangan masuknya Islam di pesisir utara Jawa terutama di Semarang, Tuban dan Gresik, serta cerita silat yang membuat pembaca membayangkan perkelahian dan jurus-jurus sakti ilmu kanuragan.
Cukup menghibur untuk anda yang suka cerita silat dan cerita sejarah Nusantara.