TASARO
Ingin kenal lebih dalam karyanya
Klik >>
http://awanalbana.multiply.com/journalSahabat, Abang,…
Dikala susah dan dikala senang….
Bagiku sahabat sangat berharga lebih berharga dari harta benda…
Sahabat bagaikan bintang disetiap gugusan galaksi yang ada…
Tentunya setiap diri, saya dan anda memiliki gugusan bintang-bintang penuh warna penuh cahaya…..
Subhanallah….. sahabat salah satu nikmat dan karunia-Nya….
Special to Abangku… kumpulan komentar atas karya-karyanya…
Moga terus berjaya dan Always Istiqomah…. Amien (^ _ ^ )//
“TASARO, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, setelah dinyatakan sebagai pemenang I kategori “Cerita untuk Buku Bacaan Remaja” Penghargaan Adikarya-Ikapi 2006 di Hotel Quality, Jalan Laksda Adisutjipto Rabu 17 Mei 2006. Kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat, Ikapi DIY dan SKH Kedaulatan Rakyat tersebut dalam rangkaian Hari Buku Nasional (HBN) 2006. Tasaro menang atas karyanya “Di Serambi Makkah” terbitan DAR!Mizan-Bandung.”Saya tidak menduga, karya DI Serambi Makkah ini bisa menang,” ucapnya berbinar-binar. Kemenangan ini jelas akan memberi semangat tersendiri untuk terus menuli dan menulis.
TASARO atau singaktan dari nama aslinya Taufik Saptoto Rohadi kepada KR mengatakan dirinya tidak menduga mendapatkan penghargaan Adikarya-Ikapi. “Saya menekuni dunai tulis menulis belum lama,” ucap lelaki kelahiran Paliyan gunungkidul 1 September ini, meski mengaku belum lama, lelaki lulusan Jurusan Jurnalistik PPKP Yogyakarta ini termasuk produktif menulis cerita. Ada sejumlah buku yang telah diterbitkan antara lain, “Wandu” Berhentilah Menjadi Pengecut diterbitkan Dzikul Hakiem-Jakarta, sebagai juara I Lomba Novel Nasional Forum Lingkar Pena 2005, “Rumah Hati” – PT Syaamil Cipta Media 2005, “Dago 335” – PT. Syaamil Cipta Media 2005, “Samita” - Mizan Bandung 2005, Keikhlasan Cinta – PT Syaamil Cipta Media 2005, How To Gedy Married – Mizan Bandung 2005, dan Di Serambi Makkah.
Soal dunia menulis, dirinya ditempa ketika menjadi wartawan di sebuah media di Bogor, sekarang menjadi editor di Syaamil Cipta Media. “Kalau dihitung-hitung bergelut dunia kepenulisan sudah 5 tahunan,” katanya. Dari karya-karya yang telah diterbitkan, kata Tasaro, satu dengan lainnya memiliki Benang Merah. “Kebanyakan saya mengungkapkan sisi kemanusiaan, humanisme. Saya yakin cerita tentang kemanusiaan, humanisme tidak pernah habis untuk digali,” ucapnya. Humanisme pasti akan menarik minat siapa saja, tergantung bagaimana cara bercerita dan mengolah cerita tersebut dengan kemampuan bahasa yang prima. (Sumber: KR)